RAUSAN FIKR - Media Pencerahan

19 April, 2006

introspeksi diri bagi Muslim / ah

Filed under: mutiara

10 sebab Allah menolak do’a hamba-Nya ( sebuah introspeksi diri bagi Muslim / ah )

1. Anda mengaku mengenal Allah, sementara anda tidak penuhi hak hak-Nya
2. Anda membaca Al-Qur’an , sementara anda tidak mengamalkan isinya
3. Anda menyatakan cinta kepada Rosulullah, sementara anda tidak menjalankan sunah sunahnya
4. Anda menyatakan diri sebagai musuh syaitan, sementara anda mengikutinya
5. Anda berdo’a agar terlepas dari azab neraka, sementara anda selalu menceburkan diri dalam dosa
6. Anda selalu berdo’a untuk masuk sorga, sementara anda tidak beramal
7. Anda yakin kematian itu pasti datang, sementara anda tidak mempersiapkan diri dengan baik
8. Anda sibuk mengurus aib orang lain, sementara anda lupa dengan aib sendiri
9. Anda manfa’atkan seluruh nikmat Allah, sementara anda tidak mensyukuri nikmat tersebut
10. Anda pergi menguburkan orang yang meninggal dunia, sementara anda tidak mengambil pelajaran dari peristiwa itu.

Narasumber : Kitab “Nasho-ihul ‘Ibad”
Dipetik dari millis daarut-tauhiid@yahoogroups.com

Air Mata Rosulullah

Filed under: mutiara

Begitu hebatnya iman beliau, bukan dirinya yang dipikirkan tapi umatnya…..
Sepertinya nggak akan pernah bosan-bosan kalau membaca yg satu ini…
untuk mengingatkan kita…

Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam.
“Bolehkah saya masuk?” tanyanya.
Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk,
“Maafkanlah, ayahku sedang demam,” kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu.
Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah,
“Siapakah itu wahai anakku?”
“Tak tahulah ayahku, orang sepertinya baru sekali ini aku melihatnya,” tutur Fatimah lembut.
Lalu, Rasulullah menatap puterinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Seolah-olah bagian demi bagian wajah anaknya itu hendak dikenang.

“Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia.Dialah malaikatul maut,” kata Rasulullah,
Fatimah pun menahan ledakan tangisnya. Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tidak ikut bersama menyertainya.

Kemudian dipanggillah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini.
“Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?” Tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah.

“Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu. Semua surga terbuka lebar menanti kedatanganmu,” kata Jibril.
Tapi itu ternyata tidak membuatkan Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan “Engkau tidak senang mendengar khabar ini?” Tanya Jibril lagi.
“Khabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?”
“Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku:

“Kuharamkan surga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada didalamnya,” kata Jibril.

Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas.
Perlahan ruh Rasulullah ditarik. Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang.

“Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini.” Perlahan Rasulullah mengaduh.

Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka.

“Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?” Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu.

“Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah direnggut ajal,” kata Jibril.

Sebentar kemudian terdengar Rasulullah mengaduh, karena sakit yang tidak tertahankan lagi.

“Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku.”

Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya.

Uushiikum bis-shalaati, wa maa malakat aimaanukum - peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu.”

Di luar, pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan.
Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan.

Ummatii…ummatii…ummatiii…!“-
“Umatku…umatku…umatku…!”

Dan, berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinaran itu. Kini, mampukah kita mencintai sepertinya…???

Allaahumma sholli ‘alaa Muhammad wa baarik wa sallim’alaihi

Betapa cintanya Rasulullah kepada kita.