RAUSAN FIKR - Media Pencerahan

18 July, 2006

program Tahfizh Al Qur’an

Filed under: mutiara

Ada info program Tahfizh Al Qur’an dari Ma’had Al Imarat nih:
Ma’had Al Imarat membuka program Tahfizh Al Qur’an dengan dua program;
Tahfizh Intensif (Senin-Jum’at) dan Tahfizh Non Intensif (Senis&Kamis).
Adapun fasilitasnya:
1. Asrama (Lemari, tempat tidur & perlengkapan dapur)
2. Qur’an Standar, Qur’an Terjemah, Qur’an Saku
3. Sertifikat Tahfizh
4. Materi Tsaqofah
-Tafsir
-Ulumul Qur’an
-Tauhid
-Siroh Nabawiyah
-dll
5.Pengajar Huffazh lulusan dalam dan Luar Negeri

Persyaratan:
1. Fotocopy ijazah terakhir (min SMU/Sederajat)
2. Fotocopy KTP/SIM
3. Pas Foto 2x3=2,4x6=2
4. Rekomendasi dari organisasi/yayasan Islam
5. Siap mengikuti Interview
6. KHUSUS IKHWAN
7. Usia antara 17-30

Waktu pendaftaran 13 Juli-4 Sept 2006

Tempat pendaftaran:
Ma’had Al Imarat
Jl Inhoftank no 17 Bandung Telp 022-5223908

Masjid Al Ihsan Kancil
Jl Darta, Kancil RT03/02
Gunung Leutik Ciparay
Telp 022-5959162

Buruan Daftar, GRATISSS….Tempat terbatas!!!

7 July, 2006

SABAR

Filed under: mutiara

ATAU KITA BELUM SABAR

Ada yang perlu kita bedakan antara sabar dan keras kepala. Keduanya kadang tampak sangat berbedatapi adakalanya batas antara sabar dan keras kepala kelihatan begitu tipis. Yang pertama mengantarkan kita kepada kebaikan, kemuliaan dan pertolongan Allah, sehingga kita dapat meraih kemenangan meski tampak berdaya. Sementara yang kedua, mendekatkan diri kita pada keburukan, kehinaan dan keterpurukan, sehingga tak berdaya meski kita memiliki segala yang kita perlukan untuk meraih kejayaan.

Sementara keras kepala atau keras hati, merupakan kekeringan hati yang menghalanginya untuk menerima masukan dari luar. Suatu kekerasan yang menolaknya untuk menerima pengaruh dari masukan tersebut. Ia tidak menerima kesan karena kekerasan dan kejumudannya. Bukan karena kebijakan dan kesabarannya.

Kesabaran melahirkan kelapangan dada untuk menerima kebenaran dan kekuatan hati untuk menetapi kebaikan, meski perasaan tidak menyukainya. Sementara sikap keras kepala, terkadang lahir dari keengganan kita menerima nasihat -yang paling tulus sekalipun- hanya karena tak sesuai dengan apa yang kita inginkan atau karena kita mementingkan siapa yang berbicara daripada
apa yang dibicarakannya.

Jika kita bersikap keras dan melukai perasaan, terlebih kepada orang-orang yang menasehati kita dengan tulus, maka tak ada yang perlu dipersalahkan
kecuali diri sendiri apabila hilang kecemerlangan kita. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang menistakan manusia lainnya. hanya Allah yang memiliki kemuliaan, kekuatan dan kebesaran. Jika Ia mencabut kekuatan dan kemuliaan dari seseorang, maka tidak akan ada yang sanggup untuk menolaknya dan mengembalikannya meskipun penduduk seluruh negeri
berkumpul untuk meraih derajatnya.

Sebaliknya, jika Allah memberikan pertolongan, maka tak ada yang sanggup mengalahkan kita. Maka gantungkanlah harapan kita sepenuhnya untuk Allah.
Wallohu A’lam.