MUSIBAH ATAU COBAAN
Setiap bencana selalu menyimpan dua makna. Bencana bisa bermakna musibah, tetapi juga bisa bermakna cobaan. Dikatakan musibah jika sebelum munculnya musibah terlebih dahulu terjadi berbagai praktik perilaku masyarakat yang kurang sesuai dengan aturan, norma, dan nilai yang digariskan. Banyak perilaku masyarakat menyimpang dari ketentuan Allah SWT.
Bencana lebih dianggap sebuah musibah pernah diberikan kepada kaumnya Nabi Ad. Setelah Nabi Ad memberikan peringatan, nasihat, dan anjuran agar kaumnya berbuat kebaikan tidak diperhatikan dan tidak diindahkan, akhirnya Allah memberikan bencana berupa angin kencang, banjir yang membawa banyak korban. Seperti Firman Allah SWT, “Kemudian Kami kirim mereka angin yang kencang dan keras pada beberapa hari yang celaka, agar supaya mereka merasakan siksa kehinaan pada hidup di dunia ini. Sesungguhnya siksa di akhirat lebih berat daripada itu sedang mereka tidak akan mendapat pertolongan” (Q.S. Al-Fushilat: 16).
Latar belakang munculnya bencana yang melanda kaum Ad, karena selama kehidupannya kaum yang dipimpin Nabi Ad telah banyak melaksanakan perilaku yang menyimpang dari ketentuan yang ditentukan. Mereka minum-minuman keras, melakukan perampokan, bahkan melakukan praktik seks bebas, tidak hanya dengan lawan jenis tetapi juga dengan sesama jenis. Semua tindakan itu tidak ada yang sesuai dengan ajaran yang berlaku pada saat itu. Ketika semua kaum tidak dapat memperbaiki dan tidak mengindahkan nasihat yang diberikan oleh Nabi Ad, maka turunlah bencana itu sebagai musibah atau siksaan dari Yang Maha Kuasa.
Bencana berupa banjir dan angin topan juga pernah terjadi pada masa Nabi Nuh. Munculnya bencana itu disebabkan karena banyak masyarakat yang tidak mau mendengarkan nasihat Nabi Nuh untuk percaya atau beriman kepada Allah SWT. Bahkan anaknya Nabi Nuh sendiri bernama Kan’an juga melakukan pengingkaran kepada perintah Allah yang disampaikan Nabi Nuh. Akhirnya terjadilah bencana banjir yang melanda dan akhirnya meneggelamkan semua orang yang mengingkari perintah Allah. Hanya rombongan (kelompok) Nabi Nuh saja yang selamat dari bencana banjir dan angin topan. “Hai Bumi, telanlah air, hai langit tahanlah hujan, kemudian surutlah air itu, sedang kapal Nabi Nuh kandas di atas bukit yang bernama Judi. Serta difirmankan binasalah kaum yang aniaya itu”. (Q.S. Hud: 44).
Bencana dapat pula diartikan sebuah cobaan atau ujian. Dalam literatur sosiologi, cobaan atau ujian adalah segala sesuatu yang dialami untuk mencapai sebuah keberhasilan atau kebahagiaan. Ujian itu diberikan untuk mengetahui kualitas atau daya tahan dalam menjalani proses kehidupan. Biasanya ujian itu hanya diberikan kepada orang yang sebelumnya telah menjalani kehidupan yang sesuai dengan aturan atau ketentuan yang digariskan. Setelah mereka lulus dari ujian maka mereka akan memperoleh imbalan atau ganjaran yang lebih menyenangkan. Ujian bisa dengan kenyataan yang menyedihkan, tetapi juga bisa dengan kenyataan yang menyenangkan.
Beberapa kejadian alam yang terjadi akhir-akhir ini, dari banjir, tanah longsor, angin puting beliung dan sebagainya, apakah itu semua sebuah bencana ataukah cobaan? Wallahu alam bi shawab. Tapi kita harus instropeksi, kenapa itu semua bisa terjadi. Apa yang telah kita lakukan atau perbuatan.
Bencana ini, jangan hanya kita jadikan sarana untuk memberikan bantuan saja. Yang terpenting adalah bencana ini kita anggap merupakan hukuman atau peringatan karena kita telah banyak melakukan kesalahan terhadap ketentuan Allah. Semua elemen insaf terhadap segala kesalahan, semua elemen kembali kepada aturan yang baik dan benar, insya Allah bencana demi bencana akan sirna. Amin.
Download di sini :
Ebiet_G_Ade_-_Untuk_Kita_Renungkan.MP3
A’ Agym - Istighfar.MP3

