Hadapilah dengan senyuman
to be continue………….
Setiap bencana selalu menyimpan dua makna. Bencana bisa bermakna musibah, tetapi juga bisa bermakna cobaan. Dikatakan musibah jika sebelum munculnya musibah terlebih dahulu terjadi berbagai praktik perilaku masyarakat yang kurang sesuai dengan aturan, norma, dan nilai yang digariskan. Banyak perilaku masyarakat menyimpang dari ketentuan Allah SWT.
Bencana lebih dianggap sebuah musibah pernah diberikan kepada kaumnya Nabi Ad. Setelah Nabi Ad memberikan peringatan, nasihat, dan anjuran agar kaumnya berbuat kebaikan tidak diperhatikan dan tidak diindahkan, akhirnya Allah memberikan bencana berupa angin kencang, banjir yang membawa banyak korban. Seperti Firman Allah SWT, “Kemudian Kami kirim mereka angin yang kencang dan keras pada beberapa hari yang celaka, agar supaya mereka merasakan siksa kehinaan pada hidup di dunia ini. Sesungguhnya siksa di akhirat lebih berat daripada itu sedang mereka tidak akan mendapat pertolongan” (Q.S. Al-Fushilat: 16).
Latar belakang munculnya bencana yang melanda kaum Ad, karena selama kehidupannya kaum yang dipimpin Nabi Ad telah banyak melaksanakan perilaku yang menyimpang dari ketentuan yang ditentukan. Mereka minum-minuman keras, melakukan perampokan, bahkan melakukan praktik seks bebas, tidak hanya dengan lawan jenis tetapi juga dengan sesama jenis. Semua tindakan itu tidak ada yang sesuai dengan ajaran yang berlaku pada saat itu. Ketika semua kaum tidak dapat memperbaiki dan tidak mengindahkan nasihat yang diberikan oleh Nabi Ad, maka turunlah bencana itu sebagai musibah atau siksaan dari Yang Maha Kuasa.
Bencana berupa banjir dan angin topan juga pernah terjadi pada masa Nabi Nuh. Munculnya bencana itu disebabkan karena banyak masyarakat yang tidak mau mendengarkan nasihat Nabi Nuh untuk percaya atau beriman kepada Allah SWT. Bahkan anaknya Nabi Nuh sendiri bernama Kan’an juga melakukan pengingkaran kepada perintah Allah yang disampaikan Nabi Nuh. Akhirnya terjadilah bencana banjir yang melanda dan akhirnya meneggelamkan semua orang yang mengingkari perintah Allah. Hanya rombongan (kelompok) Nabi Nuh saja yang selamat dari bencana banjir dan angin topan. “Hai Bumi, telanlah air, hai langit tahanlah hujan, kemudian surutlah air itu, sedang kapal Nabi Nuh kandas di atas bukit yang bernama Judi. Serta difirmankan binasalah kaum yang aniaya itu”. (Q.S. Hud: 44).
Bencana dapat pula diartikan sebuah cobaan atau ujian. Dalam literatur sosiologi, cobaan atau ujian adalah segala sesuatu yang dialami untuk mencapai sebuah keberhasilan atau kebahagiaan. Ujian itu diberikan untuk mengetahui kualitas atau daya tahan dalam menjalani proses kehidupan. Biasanya ujian itu hanya diberikan kepada orang yang sebelumnya telah menjalani kehidupan yang sesuai dengan aturan atau ketentuan yang digariskan. Setelah mereka lulus dari ujian maka mereka akan memperoleh imbalan atau ganjaran yang lebih menyenangkan. Ujian bisa dengan kenyataan yang menyedihkan, tetapi juga bisa dengan kenyataan yang menyenangkan.
Beberapa kejadian alam yang terjadi akhir-akhir ini, dari banjir, tanah longsor, angin puting beliung dan sebagainya, apakah itu semua sebuah bencana ataukah cobaan? Wallahu alam bi shawab. Tapi kita harus instropeksi, kenapa itu semua bisa terjadi. Apa yang telah kita lakukan atau perbuatan.
Bencana ini, jangan hanya kita jadikan sarana untuk memberikan bantuan saja. Yang terpenting adalah bencana ini kita anggap merupakan hukuman atau peringatan karena kita telah banyak melakukan kesalahan terhadap ketentuan Allah. Semua elemen insaf terhadap segala kesalahan, semua elemen kembali kepada aturan yang baik dan benar, insya Allah bencana demi bencana akan sirna. Amin.
Download di sini :
Ebiet_G_Ade_-_Untuk_Kita_Renungkan.MP3
A’ Agym - Istighfar.MP3
Pergantian tahun adalah media introspeksi terhadap semua perbuatan yang telah kita lakukan selama setahun silam. Sebagai manusia yang ditakdirkan tak bisa luput dari salah dan lupa, bukan tidak mungkin hari-hari yang telah berlalu penuh dengan kesalahan dan kealpaan.
Perenungan adalah langkah bijak di pengujung tahun. Merenungi apa saja penopang keberhasilan agar bisa dikembangkan, merenungi penyebab kegagalan untuk dicarikan solusinya adalah keharusan yang tidak bisa ditawar. Dengan introspeksi kita lebih berhati-hati memulai lembaran baru di tahun depan dengan hal-hal yang jelas-jelas mendatangkan manfaat, bukan madharat.
Sebab pada hakikatnya kelak di kemudian hari (Hari Kebangkitan) kita masing-masinglah yang bertanggung jawab sepenuhnya di hadapan Allah SWT atas segala perbuatan yang telah dilakukan di dunia.
Buah introspeksi adalah tumbuhnya sikap dan pandangan positif (husnu al-zhan) terhadap orang lain agar bisa menilainya dengan objektif, jauh dari bayang-bayang subjektif. Dibutuhkan kearifan rasional dalam menilai segala sesuatu. Akal sehat, pikiran jernih dan hati nurani yang jujur harus dikedepankan sebagai dasar pijakannya.
Sungguh mulia bagi orang yang pandai mengevaluasi dan mengintrospeksi dirinya terlebih dahulu sebelum menilai dan mengoreksi orang lain seperti halnya diserukan hadis Nabi, ‘’Lakukan penilaian atas dirimu sendiri sebelum engkau dinilai orang lain.'’ (HR Bukhori).
‘’semakin tua akan semakin merunduk'’ ini merupakan filosofis padi, karena telah berisi beras yg semakin lama semakin berat, menjadikan fenomena ini menarik untuk sejenak dicermati.
lalu apa hubungannya dengan kita? mari kita coba menelusurinya. Jika kita mencoba merenungkan sejenak tentang diri kita, maka filofosi padi tersebut akan sangat mengena pada kita. mengapa?? padi akan sangat berguna ketika ia sudah menjadi tua, dan padi yg tua ditunjukkan dengan bentuknya yg merunduk kebawah.
Tetapi kenyataan manusia yg semakin tua (kaya pengalaman dan ilmu) semakin merunduk (merendah) seperti filosofi padi semakin sedikit. Banyak dari kita yg telah diperbudak oleh keinginan yg mengesampingkan kapasitasnya sebagai manusia.
seorang manusia bijak semacam socrates justru merasa dirinyalah yg paling tidak tahu ketika banyak orang beranggapan bahwa dia banyak pengetahuan. Mengapa dia bersikap begitu? Ya, karena dia merasa justru dia mengetahui betapa tidak tahunya dia.
Jika kita mampu bersikap seperti itu, maka betapa indahnya dunia kita. Dunia yg tidak dipenuhi dengan perang dari sikap arogan manusia yg merasa dirinya paling tahu, yg merasa dirinya paling hebat dan kuat. Jika kita sebagai manusia mampu bersikap seperti padi, maka dunia akan semakin indah karena dipenuhi oleh manusia yg begitu memahami dirinya, tidak bersikap sombong, congkak dan angkuh walaupun dia sudah bisa dikategorikan sebagai orang yg pandai dan berpengalaman.
Ingatlah bahwa kita pernah berada pada masa ‘’mencari'’ seperti sepucuk padi yg berdiri tegak seakan ingin menggapai sesuatu yg ada diatasnya, dan ketika ia sudah menggapainya ia justru semakin merendah, karena dalam dirinya telah dipenuhi sesuatu yg berguna dan dibutuhkan oleh banyak orang.
Ingatlah bahwa kita pernah berada pada masa ‘’yg tak dimengerti'’ ketika masih menjadi seorang bayi yg hanya makan dan menangis tak tahu apa tujuan kita nanti, seperti padi yg baru aja ditanam, tak tahu akan mati atau akan bisa tumbuh.
akhirnya semua kembali kepada kita dalam menyikapi ilmu dan pengalaman yg kita miliki, akankah menjadikan kita arogan dan sombong ataukah membuat kita seperti padi yg merunduk. Ada baiknya kalo kita bersikap seperti padi, yg semakin tua semakin merunduk karena semakin berisi dan berbobot.
Manusia tidak layak untuk bersikap angkuh atau sombong karena usia atau kemampuan yang dimilikinya. Masyarakat akan memandang baik seseorang apabila semakin tinggi usia, atau semakin tinggi kemampuannya, ia semakin merendahkan hatinya.
Untuk membentuk bibir yang menawan, ucapkanlah kata-kata kebaikan. Untuk mendapatkan mata yang indah, carilah kebaikan pada setiap orang yang anda jumpai. Untuk mendapatkan bentuk badan yang langsing, bagikanlah makanan dengan mereka yang kelaparan. Untuk mendapatkan rambut yang indah, mintalah seorang anak kecil untuk menyisirnya dengan jemarinya setiap hari. Untuk mendapatkan sikap tubuh yang indah, berjalanlah dengan segala ilmu pengetahuan, dan anda tidak akan pernah berjalan sendirian.
Manusia, jauh melebihi segala ciptaan lain. Perlu senantiasa berubah, diperbaharui, dibentuk kembali, dan diampuni. Jadi, jangan pernah kecilkan seseorang dari hati anda. Apabila anda sudah melakukan semuanya itu, ingatlah senantiasa. Jika suatu ketika anda memerlukan pertolongan, akan senantiasa ada tangan terulur. Dan dengan bertambahnya usia anda, anda akan semakin mensyukuri telah diberi dua tangan, satu untuk menolong diri anda sendiri dan satu lagi untuk menolong orang lain.
Kecantikan wanita bukan terletak pada pakaian yang dikenakan, bukan pada bentuk tubuh, atau cara dia menyisir rambutnya. Kecantikan wanita terdapat pada mata, cara dia memandang dunia. Karena di matanya terletak gerbang menuju ke setiap hati manusia, di mana cinta dapat berkembang. Kecantikan wanita bukan pada kehalusan wajah. Tetapi pada kecantikan yang murni, terpancar pada jiwanya, yang dengan penuh kasih memberikan perhatian dan cinta. Dan kecantikan itu akan tumbuh sepanjang waktu. Kecantikan wanita ada pada sikap lembutnya, yang terpancar dari keihlasan hati dalam merawat dan menjaga keluarga.
“Wanita yang cantik adalah wanita yang bisa menjaga harga dirinya.”
Sumber : www.kotasantri.com
Download : Wanita Shalihah.mp3
Al-Imam Al-Hasan Al-Basri menasihati Umar ibnu Abdul Aziz dengan ucapannnya, “Sesungguhnya dunia ini suatu mimpi, sedangkan akhirat adalah kenyataan, dan kematian berada di tengah-tengah antara keduanya. Ada pun kami bermimpi yang kacau.
Barangsiapa mawas diri selama hidupnya, maka dia beruntung. Namun barangsiapa yang lengah dan lalai, maka dia akan merugi. Barangsiapa selalu memandang kepada akibat, maka dia akan selamat. Dan barangsiapa yang memperturutkan hawa nafsunya, maka dia akan sesat.
Barangsiapa yang sabar dan tenang, maka dia akan berhasil. Dan barangsiapa yang takut, maka dia akan selamat. Barangsiapa yang memahami, dia akan mengetahui. Barangsiapa yang berilmu, maka dia akan memahami.
Apabila kamu tergelincir, kembalilah. Dan bila kamu menyesali sesuatu, jangan diulangi. Apabila kamu tidak tahu, bertanyalah. Dan bila kamu marah, maka tahanlah dirimu.
Orang yang mulia akan terhormat dalam pandangan manusia, namun apabila dia menunjukkan kerakusan pada dunia, maka dia akan direndahkan, omongannya tidak disukai, dan dibenci.”
Dikutip - www.kotasantri.com
Ramadhan.. bulan yang indah takkan terlupakan…
Ramadhan.. bulan penuh berkah dari Sang Maha Rahmah…
Begitu cepat engkau berlalu,
Telah terdengar takbir bersahutan..
Kita sambut hari Kemenangan dengan penuh suka cita…
Dengan segala keterbatasan seorang hamba ALLAH..
tak luput dari salah, hati yang berprasangka, dan sikap yang menyakitkan..
astaghfirullahaladzim… astaghfirullahaladzim… astaghfirullahaladzim…
Semoga kita semua dapat saling memaafkan…
Semoga kita semua dijauhkan dari rasa dengki dan prasangka
TAQOBALALLOHU MINA WAMINKUM
Minal ‘Aidzin Wal Fa’idzin
Mohon Maaf Lahir dan Batin
Jika engkau hanya mampu merangkak,
maka merangkaklah kepada-Nya!
Jika engkau tidak mampu berdoa dengan khusyu’,
maka persembahkanlah doamu yang kering, munafik, dan tanpa keyakinan!
Karena Tuhan dalam rahmat-Nya
tetap menerima mata uang palsumu.
Jika engkau mempunyai seratus keraguan kepada Tuhan,
maka kurangilah jadi sembilan puluh sembilan saja. Itulah jalannya!
Wahai pejalan,
Walau kau telah seratus kali ingkar janji, datanglah, dan datanglah lagi!
Karena Tuhan telah berfirman:
“Ketika engkau mengangkasa, ataupun terpuruk dalam jurang,
ingatlah kepada-Ku, karena Aku-lah Jalan itu.”